Garuda Wisnu Kencana (GWK) Wisata Monumen Termegah Di Bali

Oleh:   Cafe Wisata Cafe Wisata   |   6/01/2016 06:03:00 PM
Pada titik 40 kilometer Bali Selatan, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu kawasan Ungasan, mata kita akan terbelalak dengan patung raksasa Dewa Wisnu yang nampak menjulang dari kejauhan. Keberadaannya seolah menjadi penjaga bagi bumi sekitarnya.


Kita bisa melihat patung tersebut dari dekat di Garuda Wisnu Kencana (GWK). GWK adalah taman budaya terbesar di Bali yang menjadi ikon wisata Pulau Dewata. Taman budaya yang luasnya mencapai 60 hektar ini juga menjadi tempat penyelenggaraan atraksi budaya. Di sini terdapat banyak venue pertunjukan yang menampilkan keindahan alam tebing kapur, sebutlah Lotus Pond, Wisnu Plaza, Street Theater, Amphitheater, Plaza Kura-Kura, dan Indraloka. Taman budaya ini juga menyediakan fasilitas restoran dan toko sovenir sendiri.

Patung Dewa Wisnu setinggi 20 meter ini merupakan mahakarya pematung besar Tanah Air asal Bali – I Nyoman Nuarta. Patung Dewa Wisnu sebenarnya merupakan bagian dari versi utuh Patung Garuda Wisnu Kencana berupa Dewa Wisnu yang sedang menunggangi burung Garuda.

Dengan tinggi yang akan mencapai 150 meter dan lebar hingga 64 meter dalam posisi sayap Garuda terbentang, Patung GWK ini memang didesain untuk menjadi salah satu patung monumental terbesar dan tertinggi di dunia.

Konon, pembuatan patung ini membutuhkan 3.000 ton tembaga dan kuningan dengan lapisan asam patina untuk bagian utama, serta lapisan mozaik emas untuk bagian kecil seperti mahkota dan aksesoris Garuda.

Saat ini, patung Dewa Wisnu tersebut baru selesai dalam rupa torso (bentuk kepala hingga pinggang). Kita dapat menemukannya berdiri di Wisnu Plaza yang merupakan dataran tertinggi di GWK (lebih dari 260 meter di atas permukaan laut). Kemegahannya nampak sempurna dengan pemandangan alam Bali Selatan yang luar biasa memesona dari ketinggian.

Patung Dewa Wisnu ini dikelilingi oleh air mancur dan mata air suci (Parahyangan Somaka Giri). Menurut kepercayaan setempat, mata air tersebut merupakan mata air abadi yang tak kan kering meski kemarau tiba. Air ini juga dipercaya memiliki keajaiban sebagai penyembuh penyakit dan tempat meminta hujan kala musim kemarau tiba. Fenomena mata air di tanah tinggi memanglah sangat ajaib sehingga masyarakat sangat memandangnya sakral.

Sementara itu, bagian lain dari patung GWK yang sudah selesai adalah tangan Dewa Wisnu dan kepala Garuda. Tangan Dewa Wisnu sementara ini diletakan di area bernama Tirta Agung. Di sisi lain, patung kepala Garuda menjadi pemandangan utama Lotus Pond yang terletak tepat di belakang Wisnu Plaza.

Lotus Pond sendiri merupakan arena terbuka yang sarat keajaiban alam. Tebing batu kapur yang dipotong dengan alat besar nampak menjadi pilar alami dengan lahan hijau di tengah dan patung kepala Garuda sebagai daya tarik utamanya.


Lotus Pond biasanya digunakan sebagai venue beragam acara dengan kapasitas hingga 7.000 orang. Musisi legendaris sekelas Iwan Fals, Deep Purple, hingga Scorpion sudah pernah menyempurnakan konser musiknya di tengah bukit kapur Uluwatu ini.

Nantinya, patung GWK akan terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama adalah patung Dewa Wisnu menunggang Garuda dan bagian kedua merupakan monumen alas.


Monumen alas akan didesain dalam bentuk bangunan berukuran 30.000 meter persegi. Ballroom multifungsi akan dihadirkan dalam monumen alas tersebut sebagai balai konferensi seni dan budaya kelas dunia.

Untuk menikmati keajaiban patung fenomenal ini, terbanglah ke Pulau Bali pada liburan Anda selanjutnya. Hubungi agen tiket pesawat Citilink terpercaya jika ingin terbang murah dan aman ke Bandara Internasional Ngurah Rai – Bali. Bila tidak ingin repot, Anda bisa memanfaatkan layanan pemesanan Citilink melalui Traveloka, biasanya jika melalui online akan lebih mudah, cepat dan Aman. Setibanya di bandara, langsung alihkan kendaraan Anda ke arah Desa Jimbaran menuju Jalan Raya Uluwatu. Jarak perjalanan dari bandara kurang lebih 25 menit saja dalam kondisi jalan normal.

Galery Foto Lainnya 




Sejarah Garuda Wisnu Kencana (GKW)
Alkisah di sebuah negeri, tersebutlah seorang Rsi yang baik nan bijaksana. Rsi tersebut bernama Rsi Kasyapa. Beliau memiliki 2 orang istri yakni Kadru dan Winata. Rsi kasyapa selalu berbuat adil kepada kedua istrinya, walaupun begitu salah satu istrinya yaitu Kadru selalu menaruh rasa iri dan dengki kepada Winata.

Kisah pun berlanjut, alkisah Kedua istri Rsi Kasyapa masing-masing dikaruniai momongan(anak). Kadru dikaruniai para Naga, sedangkan Winata dikaruniai seekor Burung Garuda. Kadru yang tetap memiliki rasa iri dan dengki terhadap Winata selalu melancarkan niat jahat agar Winata dapat keluar dari lingkaran keluarga Rsi Kasyapa.

Suatu ketika, Para Dewa mengaduk-aduk samudra untuk mendapatkan Tirtha Amartha. Tirtha(air) yang diebut-sebut dapat memberikan keabadian kepada siapapun yang dapat meminumnya walaupun hanya setetes. Bersamaan dengan kejadian itu, muncullah kuda terbang bernama Ucaihswara. Oleh karena Kadru yang selalu menaruh rasa dengki terhadapa Winata, Kadru kemudian menantang Winata untuk menebak warna Kuda Ucaihswara yang belum terlihat oleh mereka.

Winata kemudian menyanggupi tantangan dari Kadru dengan perjanjian, jika siapapun yang kalah harus bersedia menjadi budak dan selalu mentaati seluruh perintah dari yang menang. Kemudian Kadru menebak warna kuda itu berwarna hitam, dan Winata menebak warna kuda itu berwarna putih. Sebelum kuda itu muncul, secara diam-diam Kadru menerima informasi dari anaknya(naga) bahwa kuda itu sebenarnya berwarna putih.

Mengetahui bahwa dirinya akan kalah, maka Kadru berbuat licik dengan menyuruh anaknya untuk menyembur dengan racun tubuh kuda itu sehingga terlihat kehitaman. Benar saja kuda yang dulunya putih kemudian menjadi hitam setelah muncul dan dilihat oleh Kadru dan Winata. Karena Winata merasa dirinya telah kalah, maka ia bersedia menjadi budak Kadru selama hidupnya.

Mengetahui kelicikan Kadru, anak Winata yakni sang Garuda tidak tinggal diam. Dia kemudian bertarung dengan anak-anak Kadru yakni para Naga yang berlangsung tanpa henti siang dan malam. Keduanya berhasil menahan imbang disetiap pertarungan sampai akhirnya para Nagapun memberikan persyaratan bahwa dia akan membebaskan Winata dengan syarat sang Garuda dapat membawakan Tirtha Amartha kepada para Naga.

Sang Garuda menyanggupinya, dia bersedia mencari Tirtha Amertha yang tidak dia ketahui tempatnya agar dia dapat menyelamatkan ibunya dari perbudakan. Di tengah petualangannya, sang Garuda bertemu dengan Dewa Wisnu yang membawa Tirtha Amertha. Garuda kemudian meminta Tirtha Amertha itu, Dewa Wisnu menyanggupinya dengan syarat agar Garuda mau menjadi tunggangan Dewa Wisnu yang kemudian disebut sebagai Garuda Wisnu Kencana.

Garuda kemudian mendapat tirtha amertha dengan berwadahkan kamendalu dengan tali rumput ilalang. Ia memberikan tirtha tersebut kepada para naga, namun sebelum para naga sempat meminumnya tirtha itu terlebih dahulu diambil oleh dewa indra yang kebetulan lewat. Namun tetesan tirtha amertha itu masih tertinggal di tali rumput ilalangnya. Naga kemudian menjilat rumput ilalang tersebut yang ternyata sangat tajam dan lebih tajam dari pisau. Oleh karena itu lidah naga menjadi terbelah menjadi 2 ujung yang kemudian disetiap keturunan naga itu juga memiliki lidah yang terbelah. Kemudian ibu Winata berhasil dibebaskan dari jeratan perbudakan.

Begitulah akhir cerita dari Sejarah Cerita Garuda Wisnu Kencana. Lalu apa hubungan Garuda anak Winata dengan Garuda Lambang Negara Indonesia? Karena melihat filosofi diatas para petinggi yang membangun Negara Indonesia kemudian memilih Burung Garuda sebagai lambang Negara Indonesia karena melihat kegigihan Burung Garuda dalam berbakti kepada ibunya agar ibunya dapat lolos dari perbudakan. Garuda tersebut melambangkan kegigihan masyarakat pribumi (masyarakat indonesia) dalam memperjuangkan tanah Ibu pertiwi agar lolos dari perbudakan para penjajah kala itu.

Cukup sekian dulu tulisan saya tentang  Wisata Monument Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ada di Pulau Dewata  Bali semoga dapat bermanfaat :)

Tampilkan Komentar