Candi Brahu Adalah Wisata Sejarah Dari Mojokerto

Oleh:   Cafe Wisata Cafe Wisata   |   5/10/2017 12:52:00 PM
Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto., propinsi Jawa Timur. Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang, terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit .Namun telah diaspal.  Candi Brahu terletak di sisi kanan jalan kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya.

Struktur bangunan
Struktur  bangunan candi  Brahu terdiri dari kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Kaki candi terdiri dari bingkai bawah, tubuh candi serta bingkai atas. Bingkai tersebut terdiri dari pelipit rata, sisi genta dan setengah lingkaran. Dari penelitian yang terdapat pada kaki candi diketahui terdapat susunan bata yang strukturnya terpisah, diduga sebagai kaki candi yang dibangun pada masa sebelumnya. Ukuran kaki candi lama ini 17,5 x 17 m. Dengan demikian struktur kaki yang sekarang merupakan tambahan dari bangunan sebelumnya. Kaki candi Brahu terdiri dari dua tingkat dengan  selasarnya serta tangga di sisi barat yang belum diketahui bentuknya dengan jelas.

Bentuk tubuh candi Brahu tidak tegas persegi,  melainkan bersudut banyak,  tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuhnya melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga tidak  berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar. Candi Brahu dibangun dari bata yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok.
Bagian tubuh candi Brahu sebagian besar merupakan susunan  batu bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda. Sebagian besar candi-candi di Trowulan dibangun menggunakan batu bata merah, karena mengandung unsur religi atau kepercayaan..

Candi Brahu berukuran tinggi 27 m, didalamnya terdapat bilik berukuran 4×4 m,.Namun kondisi lantainya telah rusak.  Di kompleks candi ada semacam altar yang berbentuk Mahameru. Pada waktu pembongkaran struktur bata pada bilik ini ditemukan sisa-sisa arang yang kemudian dianalisa di Pusat Penelitian Tenaga Atom Nasional (BATAN) di Yogyakarta. Hasil analisa  tersebut menunjukkan bahwa pertanggalan radio karbon arang candi Brahu berasal dari masa antara tahun 1410 hingga 1646 M.

Sebagai bahan perbandingan, cirri-ciri candi Jawa Timur adalah bentuk bangunannya ramping, atapnya merupakan perpaduan tingkatan, puncaknya berbentuk kubus, makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala, reliefnya timbul sedikit saja dan lukisanya simbolis menyerupai wayang kulit, letak candi di belakang halaman, kebanyakan menghadap ke barat, sebagian besar terbuat dari batu bata merah.

Atap candi Brahu tingginya kurang lebih 6 m. Pada sudut tenggara atap terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran yang diduga sebagai bentuk stupa. Berdasarkan  gaya bangunan serta profil sisa hiasan yang berdenah lingkaran pada atap candi yang diduga sebagai bentuk stupa, para ahli menduga bahwa candi Brahu bersifat Budhis. Selain itu diperkirakan candi Brahu umurnya lebih tua dibandingkan dengan candi-candi yang ada di situs Trowulan bahkan lebih tua dari kerajaan Majapahit itu sendiri. Dasar dugaan ini adalah prasasti tembaga Alasantan yang ditemukan kira-kira sekitar 45 m di sebelah barat   candi  Brahu. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja Empu Sendok dari Kahuripan pada tahun 861 Saka atau 9 September 939 M. Diantara isinya menyebutkan nama sebuah bangunan suci yaitu wanaru atau warahu. Nama istilah inilah yang diduga sebagai asal nama candi Brahu sekarang.

Dari reliefnya, candi ini adalah gambaran sinkretisme keagamaan antara agama Hindu dan agama Budha, Awalnya candi ini berfungsi sebagai tempat pembakaran raja-raja Majapahit . Namun  asumsi tersebut tidak terbukti. Dan dengan gambaran sinkretisme tersebut, hingga saat ini pemeliharaan candi Brahu dilakukan oleh kedua agama tersebut.

Berbeda dengan ritual pemujaan pada situs pemujaan lainnya, di sini aktifitas tersebut dilakukan hanya dengan cara meletakkan sesaji pada bagian depan dan pintu candi yang menghadap ke arah barat.

Meskipun tidak terbukti, menurut masyarakat di sekitarnya, candi ini dahulu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenasah dari raja Brawijaya I sampai IV. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong.

Candi Brahu tidak berdiri sendiri, disekitarnya terdapat bangunan candi-candi lain, yaitu candi Gentong Gedong dan candi Tengah. Di antara ketiga candi itu, hanya candi Gentong yang masih terlihat sisa-sisanya, dan terletak di sebelah timur candi Brahu. Di sekitar candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain :

* Benda-benda semisal perhiasan dari emas dan perak.
* 6 buah arca yang bersifat agama Budha.
* Piring perak yang bagian bawah bertuliskan tulisan  kuno.
* 4 lempeng prasati tembaga dari jaman sindok

SEJARAH CANDI BRAHU
Candi Brahu sudah dibangun sebelum masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan diperkirakan di bangun pada masa raja Brawijaya I. Dapat dikatakan bahwa Candi Brahu merupakan candi yang paling tua dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang ada di Trowulan.  Candi ini merupakan pandarmaan dari raja Brawijaya, mulai dari yang pertama sampai keempat. Memang candi ini telah di restorasi, namun tidak bisa secara utuh karena kesulitan akibat bangunan candi yang terbuat dari batu  bata merah. Bisa dikatakan bahwa bangunan yang sekarang berdiri itu sudah mengalami pembenahan namun tetap masih candi yang lama, hanya sedikit tambahan saja.

Berdasarkan  bentuk  stupa   yang  ada pada sekitar candi, candi Brahu bersifat budhis. Kita tinggalkan dulu mengenai candi Brahu, kita beralih ke Majapahit. Majapahit merupakan sebuah kerajaan yang besar pada masa Hindu-Budha. Majapahit merupakan kerajaan Hindu. Pusatnya dihutan Tarik, dengan raja pertama Raden Wijaya. Masa puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk yang berkolaborasi dengan kejeniusan sang Maha Patih Gajah Mada dengan gagasan Nusantaranya. Banyak peninggalan-peninggalan Majapahit yang terkenal di Trowulan, mulai dari candi Bajang Ratu sampai candi Brahu. Kami disini sebagai penyusun akan membahas mengenai candi Brahu saja.

Seperti  yang  telah  diterangkan  diatas  bahwa candi Brahu merupakan candi tertua di Trowulan yang dibangun untuk mengenang atau sebagai pendarmaan dari raja Brawijaya yang pertama sampai keempat. Dan juga candi ini ada yang mengatakan unsur budha, namun ada pula campuran dari Sywaisme.

Bisa kita telaah kepada masyarakat  sekitar bahwa mulai dari budaya sampai kesenian berkembang dan bahkan sekarang menjadi sebuah lapangan pekerjaan bagi masyarakat Trowulan. Ada yang ahli lukisan, ada yang ahli patung dan sebagainya. Tentunya ini menjadi sebuah aset budaya yang harus dipertahankan oleh bangsa kita. bahwa kita memiliki sosio-budaya yang menarik dan luar biasa dan tidak kalah bila dibnadingkan dengan bangsa asing. Bisa dilihat pula dengan adanya hal demikian membantu perekonomian masyarakat Trowulan yang secara otomatis akan membantu mengurangi pengangguran di Indonesia. Jikalau Indonesia (dalam hal ini pemerintah) bisa memanfaatkan peninggalan-peninggalan sejarah dengan baik dan mempergunakanya untuk kesejahteraan bangsa kita. Tentunya dengan melestarikan dan menjaga peninggalan sejarah tersebut tanpa mengurangi fungsi dasarnya.

Candi Brahu sendiri diperkirakan usianya lebih tua dari kerajaan Majapahit. Hal ini didasarkan pada prasasti  tembaga Alasantan yang ditemukan kira-kira  45 masehi di sebelah barat candi Brahu. Prasasti ini berangka tahun 861 saka atau 9 September 939 Masehi atas perintah raja Empu Sindok dari Kahuripan.

Menurut masyarakat sekitar, candi Brahu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja Brawijaya. Akan tetapi berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya “bekas” abu atau mayat, melainkan keadaan bilik candi Brahu yang sekarang sudah kosong.

Disekitar kompleks candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda dari emas, dan arca-arca logam di mana hal tersebut menunjukkan adanya cirri-ciri agama Budha. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa candi Brahu merupakan candi Budha.

Candi ini juga bagus untuk background foto prewedding ataupun selfie karena di candi ini halamannya sangat luas, bersih dan terawat dan ibawah ini adalah hasil foto selfie saya.



Baiklah Man teman cukup sekian dulu sharing saya tentang Candi Brahu Adalah Wisata Sejarah Dari Mojokerto semoga informasi yang saya bagikan bisa bermanfaat.


Tampilkan Komentar